Kali ini saya ingin berbagi tentang ‘the most scare experience I ever had in my life’ selain itu pengalaman ini juga merupakan pertama kalinya saya alami semenjak 22 tahun saya merasakan kehidupan. Saat itu jumat malam, hari kedua dibulan maret. Setelah off dari pekerjaan dihari sebelumnya, sesuai dengan schedule yang ditentukan saya bertugas sore yakni from 3 to 11 pm. Seperti hari-hari biasanya, saya tidak menumpang di mobil antaran yang disiapkan oleh hotel untuk karyawan yang pulang malam melainkan dijemput pacar (baca ilham). sejak awal saya bekerja, ilham memang selalu menjemput, jadi bisa dihitung berapa kali saya ikut mobil antaran. Hal itu pun saya lakukan jika ilham memang tidak sempat untuk menjemput. Alhamdulillah ya pacar saya baik hati. :D)
Pukul 11.00pm, saya mengakhiri tugas dengan memastikan sudah menyampaikan segala informasi kepada senior di shift selanjutnya. Tidak ada firasat apa-apa yang saya rasakan saat meninggalkan hotel hingga tiba diparkiran tempat ilham menunggu.
Dari hotel kami tak lekas pulang, melainkan mengisi kampung tengah. Ilham menyarankan untuk makan di warung ayam bakar Mas Daeng yang jaraknya tidak terlalu jauh. Sebenarnya saya lebih ingin menikmati ayam khas KFC namun karena waktu juga sudah menunjukan tengah malam, Mas Daeng menjadi pilihan. Setiba diwarung, saya sedikt bad-mood sebab apa yang saya inginkan sold out. Maklumlah saat itu memang petugas warung juga sudah bersiap-siap untuk berbenah. Lima menit kemudian yang tersaji di hadapan kami 2 nasi putih, 1 porsi kepiting asam manis, 1 porsi cah-kangkung, 1 gelas the hangat, dan 1 botol air mineral. Sejujurnya, bad-mood saya tidak berubah, sebab dari menu diatas memaksa saya hanya melahap nasi dan cah kangkung. I don’t like crab. Ilham menikmati kepiting pesanannya sedangkan saya tidak. ‘Ah, sudahlah, kangkung cah cukup mengeyangkan malam ini’ gumamku.
Santap malam selesai, kembali ketujuan utama yakni pulang. Waktu telah menunjukkan 30 menit pertama dihari ketiga bulan maret. Saat melewati Jl.Ratulangi, saya sempat bertanya pada ilham ‘kenapa nda lewat Sungai Saddang saja?’ sebab biasanya pun jika pulang malam, kami akan lebih memilih jalan tersebut. ‘mau isi bensin dulu’ jawabnya singkat sambil menunjuk kearah meteran bahan bakar yang hampir sekarat.
Motor kesayangan ilham diberi minum di SPBU daerah Pongtiku. Belum 2 menit meninggalkan SPBU, ban motor kempes. Kami berdua bingung, jam berapa ini? Dimana ada tambal ban terdekat?. Akhirnya saya menelpon Upiq dipondokan menanyakan apakah ada yang bisa menjemput. Kami akhirnya memutuskan untuk mendorong motor ke depan RS. Awal Bros dengan harapan tambal ban disitu masih terbuka. Dan disitulah tempat paling dekat yakni sekitar 200 sampai 300 meter dari tempat kami sekarang.
Tengah malam ditengah kota Makassar ternyata cukup menyeramkan. Hanya ada beberapa kendaraan yang lalu lalang. Kami sedikit bercerita saat itu, tak lama kemudian ada seorang pengendara yang menghampiri kami ‘habis bensin ta?’ sapanya. ‘iye,, nda ji, kempes bannya’ balas ilham. ‘oh, sakira habis bensin ta biar sa tonda motorta ke SPBU, duluan ka pade’ jawabnya. sambil senyum kami melihatnya berlalu, lalu saya dan ilham sempat bercengkrama ‘ternyata masih ada orang baik di Makassar tengah malam begini’ ucap ilham.
Sebenarnya perasaan saya agak sedikit was-was malam itu, handphone yang tadinya saya genggam saya masukkan dalam tas. 10 menit berjalan tidak ada apa-apa terjadi, gedung RS Awal Bros telah terlihat. Tak lama kemudian saat berada tepat didepat pertigaan Jl.Adipura-Urip. Saya merasa ada seorang lelaki bermotor yang menarik tas yang saya jepit dilengan dari belakang. Karena kanget saya sontak menarik tas saya, saya juga ikut menarik dengan maksud menahan agar tas saya tidak berpindah tangan. Lelaki itu berusaha keras, namun sepertinya Tuhan masih berpihak pada saya. Motor lelaki itu oleng dan jatuh sebab saat tarik menarik tas, saya mampu menahan tas tetap ditangan saya. Kejadian itu cepat sekali, ilham yang juga kaget meliaht saya tiba-tiba bersuara langsung membuang motor yang sejak tadi ia dorong, lalu bermaksud memukul lelaki tersebut namun mereka lebih dahulu melarikan diri dan meninggalkan motornya karena melihat banyak orang yang menghampiri kami.
Saya yang masih shock, lalu mehanan ilham yang bermaksud mengejar. Beberapa pengendara menghampiri dan menolong kami. Ilham yang sedikit cidera pada lututnya karena menendang lelaki tersebut. Kami pun dibantu menuju ke pos Polisi yang jaraknya 50 meter dari TKP. Seorang pria yang menolong kami, membawa motor penjambret yang ditinggalkan karena takut dikeroyok ke pos polisi.
Tiba di pos Polisi, saya menelpon Upiq untuk datang menjemput kami. ‘baru saja bertemu orang baik, tak lama kemudian orang jahat pun datang’ ucap ilham.
Singkat cerita, kami dan BB (barang bukti) digiring ke Polrestabes untuk membuat laporan. Ditemani Dayat saya diinvestigasi pak polisi tengah malam. Ilham dan Upiq terlebih dahulu menambal ban motor. Pukul 4.00 am kami berempat baru meninggalkan kantor polisi.
Well, sekian share pengalaman hampir terjambret saya kali ini. Sejujurnya saya iba melihat lelaki yang berniat menjambret saya. Bukannya sukses menjambret malah motornya kini terparkir dikantor polisi sebagai barang bukti. Dari kejadian ini banyak sekali pelajaran yang saya dapat salah satunya, Tuhan itu selalu melindungi umatnya. Alhamdulillah.
serunya critanya nen,,,sy juga prnh kjadian bgitu...pagi2 jam 6 sy sm mace ke hamzi eeh diikuti sm pengendara asing dr abdesir smp dpn rs inau...untung nda bisa dia ambil tasku krn sy pangku smbil jepit erat2...deeh mudh2an ndda lg kejadian aneh bgitu,,,amiiiinn
ReplyDeletehahahha... harus hati-hati memang orang dijalan sekarang... trauma naik motor saya malam-malam..
ReplyDelete