Saturday, 29 January 2011

it's 21


21 tahun kini aku menyusuri bumi gersang...
Dengan selalu bermimpi meraih bintang...
Perih , sedih, suka, canda dan tawa siap aku terjang...
Aku sadar jika 21 aku kini jauh dari sempurna untukMu...
Jadikan aku lebih tangguh kini...
Aku butuh banyak keberanian untuk berjalan sendiri kini...
Aku butuh ketegaran untuk tidak menangis kini...
Aku butuh kedewasaan untuk lebih bijaksana kini...
Aku butuh RangkulMu untuk tidak terjatuh (lagi) kini...
Aku butuh sabarMu untuk lebih tenang kini...
Salah langkahku dulu ingin aku ubah kini...
Dan semua berawal sejak saat ini...


untuk Tuhan

 Jika saya diberi kesempatan untuk bertemu Tuhan maka doa yang akan aku panjatkan adalah kebahagiaan ayah dan ibu. Saya terlalu hina untuk meminta lebih dari itu, untuk semua jejak hidup yang saya telah lalui sampai saat ini saya rasa tidak pantas saya mengharapkan lebih. Terkadang saya berdebat dengan diri saya sendiri bahwa sesungguhnya Tuhan menyayangiku karena doa ibu disetiap shalat malamnya. Sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang tidak mempunyai daya apa-apa, saya telah banyak berbuat salah. Saya yang sering sekali sengaja untuk lupa sujud kepada-Nya, mengacuhkan-Nya sedangkan Tuhan selalu ada bahkan tiap kedip mataku terjadi karena campur tangan-Nya. Mungkin saya lebih dari seorang anak durhaka. Saya mengadu pada Tuhan saat tidak ada lagi tempat mengadu.
Saat ini saya akan memasuki satu fase baru lagi dalam perjalananku. Tuhan kembali memberiku kesempatan untuk lebih mengenal-Nya dengan 1 tahun umur yang Ia berikan. Saya tidak berbohong jika saya mengatakan bahwa pada setiap tiupan lilin ulang tahun yang diberikan padaku, tidak pernah ada satupun doa yang saya panjatkan. Saya membiarkan 5 detik berharga itu berlalu begitu saja. Mungkin karena saya takut untuk terus meminta kepada tuhan sedangkan saya tidak pernah memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Bahkan untuk sepotong kata maaf, saya juga takut.


my Long birthday Journey..


28 januari 2011 ...

Alhamdulillah...Alhamdulillah...Alhamdulillah... saya menaiki satu lagi fase kehidupan. Hari ini saya memasuki 21 tahun menjadi diriku, anak dari ibu dan ayahku, cucu dari nenekku serta ponakan dari om dan tanteku. Awal dari 21 tahunku kali ini tuhan anugrahkan kesempatan dan petualangan berharga dan penuh dengan kebahagian bersama orang-orang terkasih disekelilingku. Saat mentari mulai menanjak diujung timur langit, saya memulai aktifitasku. Agenda pertama adalah memenuhi panggilan tempat saya mengajukan diri sebagai pekerja. Saya memutuskan untuk bergegas berangkat karena mempertimbangkan ‘traffic jam’ makassar yang bisa menambah waktu berkendara apalagi saya yang menggunakan ‘public transport’. Kejutan 21 tahunku pun dimulai, sebelum berangkat ke tempat yang saya tuju, saya berfikiran untuk singgah ke kosan ‘ayang’ ( yang setahuku sudah pulang ke Bone sejak kemarin 270111 ) untuk mengambil pemotong kuku, maklum tempatku mengajukan diri kali ini adalah tempat yang memperhatikan penampilan dari ujung kaki hingga ujung rambut, hal ini membuat saya harus, mesti, kudu merapikan kuku yang biasanya aku pelihara. 
Dalam langkahku menuju kosan ilham ( baca : ayang ) tidak satupun saya berpikir tentang kejutan, namun malah terjadi. Saya terkejut saat melihat bahwa Ka’ Said dan ayang masih di makassar, padahal sebelumnya ayang benar-benar berniat pulang kampung kemarin, dan saya percaya. Senyum tersungging di sudut bibir membuat lesung pipi yang ku miliki menegas. Saya terkejut tetapi sangat bahagia bahwa hari ini ada Ayang. Saya tidak banyak berkata-kata, waktu terus berjalan, saya harus berangkat. ‘Mungkin pertanyaanku akan terjawab nanti’, kataku dalam hati. Sebelum benar-benar menuju kantor yang saya maksud, saya harus melihat suasana pasar pagi masyarakat di Terong. Hal ini dikarenakan saya membutuhkan ‘hairnet’ dan saya lupa membelinya semalam. ‘Pasar memang selalu ramai’, gumamku dalam hati. Selama tinggal di makassar mungkin bisa dihitung dengan jari berapa kali saya menjajalkan kakiku dipasar tradisional. Ok, mataku mulai melirik sana dan sini kalau-kalau ada toko aksesoris wanita. Yes, i got it. Thanks God. Saya melirik waktu di jam tanganku, pukul 08.15, saya punya waktu 15 menit untuk akhirnya tiba pada pukul 08.30. tengtereng... today, i’m on time. Setiba di kantor tersebut, saya melapor pada ‘security’. Kemudian diarahkan untuk menuju ruangan SDM.
Hari ini tuhan ingin saya melatih kesabaranku. Pukul 09.30, Saya menunggu instruksi dari pegawainya. Awalnya tujuanku kesini adalah untuk memenuhi panggilan interview, namun tidak jadi karena satu dan lain hal. The next instruction is medical check up. Saya diarahkan untuk menuju pada klinik kesehatan yang telah ditentukan. “Di jalan Batu Putih dik”, kata pegawainya. Disaat yang bersamaan otak saya mulai mereka-reka ingatan. Hasilnya saya tidak tahu dimana tempat itu. Saya beranjak dari kantor dan menuju ke alamat yang ditujukan. Untuk saat seperti ini, saya sangat membutuhkan ‘daeng becak’. Setelah nego harga dengan tukan becaknya, perjalanan menggunakan becak dimulai. Kadang saya menyukai berkeliling-keliling dengan menggunakan becak. Saya suka memperhatikan pemandangan di kiri dan kanan jalan. Saat melewati salah satu jalan ( saya lupa namanya ) saya melihat sekelompok ibu-ibu dan anaknya yang sedang duduk berteduh dibawah pohon dengan gelas ditangannya. Sebenarnya saya bertanya dalam hati “ini pengemis ya? “kok berkelompok? Atau ini tempat tongkrongannya?” sebelum sempat menjawabnya, becak yang saya tumpangi sudah menjauh. Ya sudahlah, jawaban untukku lain kali saja. Tiba di klinik kesehatan. Saya menelpon ‘Yunchay” dulu untuk menanyakan berapa biaya pengobatan di klinik ini, seingatku Yuyun pernah bercerita tentang klinik ini. maklum saya tidak membawa uang lebih hari ini. saya bertanya lagi pada petugasnya, berapa biayanya tes kesehatan yang dianjurkan pegawai tadi. Saya hampir saja pingsan mendengarnya, sekitar 1,3 juta. HAH?? Gila,, lebih banyak dari uang jajanku sebulan. Otakku berpikir keras,, apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Saya menghubungi pegawai dan memberitahu biayanya, juga menelpon mama karena uangku kurang. Setalah mendapat intruksi dari pegawai bahwa ambil tes kesehatan yang seperlunya saja, dan mama juga memberitahu jika uangnya telah ditranfer, saya kembali ke klinik. Namun tiba diklinik saya di harapkan untuk pindah ke cabang klinik kesehatan ini di jl. Bolevard, Pettarani. Tuink..tuink..tuink.. rupanya Tuhan ingin saya menjadi petualang hari ini. dengan modal “berani bertanya, tidak sesat dijalan” saya pergi ke tempat yang dimaksud. Dari jalan batu putih menuju jalan bolevard. Jarak yang cukup jauh dan perlu 2 kali menganti pete-pete. Di perjalanan saya sempat melihat sisa kecelakaan mobil dan motor tepat di depan mesjid Raya. Hmm... ‘pada para pengendara, hati-hatilah berkendara’. Di Karuwisi saya berpindah pete-pete. Dari 05 ke IKIP. Tiba diujung jalan bolevard saya kembali menaiki becak, karena jln. Bolevard adalah jalan tanpa pete-pete. Tiba di klinik, saya langsung melapor, membayar dan diperiksa. Pertama adalah mengambil sample darahku lalu photo thorax. ‘hasilnya diambil hari senin pukul 1 siang ya mba” kata petugas kliniknya. Akhirnya selasai juga. Mari pulang. Kampung tengahku belum terisi lagi selain susu coklat tadi pagi.
Jamku menunjukan pukul 15.00, mm.. 15 jam pertama di 21 tahun yang penuh petualangan. Selanjutnya adalah mendengar penjelasan Ayang tentang kenapa masih di makassar ki. Pembicaraanku kali ini betul-betul dipenuhi tawa, , , sekali lagi Alhamdulillah Ya Allah. Kau berikan warna di awal 21 tahunku kini.
Betisku baru terasa nyut-nyutnya setelah petualangan siang tadi. Ingin rasanya saya ‘massage’. Tepat pukul 18.00, tiba-tiba datang imut, uthi, ety, jibs, kamal, ayang dengan kue berbentuk bulat dengan 6 lilin kecil diatasnya. Kemudian icha, dengan korek dengan api diatasnya. Saya betul-betul bersyukur hari ini Ya Allah, dipenghujung hari awal 21 tahunku, Kau anugrahkan lagi kebahagiaan dengan keluarga kecilku. Saya rasa semua sudah cukup, Tuhan berikan apa yang benar-benar saya butuhkan, bukan apa yang saya inginkan.

Friday, 28 January 2011

sayang..

saya menyayangimu kemarin, hari ini, esok, esok, dan kemudian esok, esok lagi, pokoknya seterusnya. sampai nafas oksigen di paru-paru dan jantungku tak lagi ada.

Tuesday, 25 January 2011

Friday, 21 January 2011

Monday, 10 January 2011

status akhir

Hari ini status beberapa teman di account facebook hampir setema yakni skripsi, pembimbing dan proposal.. well...well...well.. beberapa malam lalu saya juga menerima pesan text dari seorang teman yang menanyakan kapan saya akan mengumpulkan proposal. Saya hanya membalasnya dengan mengatakan bahwa saya belum memiliki apa-apa untuk saya kumpul bulan ini. Skripsi oh skripsi.. entah kenapa saat semua teman sudah pusing tujuh keliling saya belum sama sekali ingin menoleh.
Saya memutuskan menghubungi seorang teman untuk menanyakan kesiapan dan proposalnya. Jawabannya ia belum sama sekali mempersiapkan apa-apa. Saya terkadang bingung dengan apa yang terjadi dilingkungan tempatku menimbah ilmu sekarang, segala sesuatunya dadakan. Hari ini info beredar, esok harinya semua berbondong-bondong mengelilingi sumber informasi dan kemudian hilir mudik sana-sini tidak jelas. Ada yang mencari dosen, ada yang mencari wakil dekan, ada yang mencari ketua jurusan and stuff...
Beberapa teman memang telah berencana untuk sesegera mungkin menyelesaikan kuliahnya. Sedangkan saya? Hmm jangan tanya dulu. Saat semua orang sudah memperhitungkan beberapa lama waktu yang akan ia butuhkan untuk menyusun tugas akhirnya. Saya masih saja berkelut dengan ‘mencari masalah untuk tugas akhir’. Saya bahkan bingung dengan diri saya sendiri, kadang-kadang ‘enjel’ alias enda jelas. Mungkin saya butuh obat perangsang otak, setidaknya buatku lebih ‘ngeh’ dengan apa yang sedang terjadi disekelilingku, atau paling tidak membuat saya tidak tertinggal dibelakang.
Kembali lagi ke masalah tugas akhir. Saya merasa bingung dan pusing sendiri.. oh God.. ternyata begini rasanya jadi mahasiswa tingkat akhir. Kepala rasanya penuh dengan pikiran namun pikiran tidak terdefinisi. Jalan keluar selalu berujung jalan buntu. Hmmm...  

050111

I walk alone...
Every step i take its just into you...
To love You more...
Make me stronger not to be alone but with You...

040111

kilas


19.45 pm : Lima jam setelah panggilan terakhir darinya, panggilan yang ia tutup dengan sepotong kalimat penuh emosi bagiku, “kalo iya kenapa?”. Mungkin saya terlalu sensitif atau berlebihan menanggapinya. Mungkin ia bosan, pikirku. Dia memang butuh waktu sejenak untuk sendiri tanpa saya. Mungkin hal ini juga saya perlukan agar saya tidak kaget jika suatu saat saya juga akan sendiri tanpa dia. Saya seharusnya memberikan dia waktu untuk merindukanku, begitupun denganku. Saya hanya hanya butuh untuk tetap tenang tanpa perlu khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Aku dan dia. Kami.

Home II


Saat ini jam dinding menunjukkan tepat pukul 3.00 pm, saya sedang terduduk sendiri diruang tamu kediaman nenek yang terletak disalah satu dusun di kabupaten enrekang. Saya menerawang jauh mencoba mengingat dan mereka-reka kembali semua kenangan di rumah ini. Tidak ada yang berubah dari rumah ini seingatku sejak pertama kali aku menginjak rumah ini beberapa tahun lalu. Dari semua photo yang terpajang dalam album keluarga, saya bisa mengira-ngira bahwa sejak balita rumah ini sudah sangat akrab bagiku. Ini adalah kediaman dari ibunda mama. Saya membutuhkan waktu yang sangat lama sejak terakhir kali saya menginjak rumah ini yakni 9 tahun yang lalu. Saat kepentingan sekolah mengtidak-haruskan saya meninggalkan kota kelahiran, hingga akhirnya 3 tahun terakhir rumah ini kembali begitu akrab denganku. Rumah ini adalah tempat pertama dan terakhir saya untuk berlindung saat merindukan sebuah rangkulan kelurga. Rumah yang hanya ditinggali oleh nenek, bibi dan adik sepupu menjadi rumah kedua setelah rumah jayapura.
Masih di ruang tamu saya memperhatikan satu per satu perabot yang masih sama seperti dulu. Kursi tamu, meja rias dan lemari pajangan itu masih berdiri kokoh ditempatnya. Sejak rumah ini di tambahkan ruangan bawah, hampir semua kegiatan nenek sekarang dilakukan dilantai bawah, sedangkan ruang atas hanya akan ramai saat kumpul keluarga besar yang hampir seluruhnya bertempat tinggal di Jayapura seperti ibu dan ayahku.

040111

About