Ayahku itu........
Saya mungkin akan bingung saat harus mendeskripsikan bagaimana ayah. Padahal dapat dikatakan saya seorang putri yang dekat dengan ayahnya. Saya bahkan punya banyak memori tentangnya dari masa kecil hingga remaja saat ini. Saya merasakan bagaimana menjadi putri tunggalnya selama 9 tahun hidupku hingga adik perempuanku akhirnya menghirup udara di bumi yang bagiku penuh dengan kegersangan saat ini. Saya ingat dulu ayah selalu membelikan mainan masak-masakan. Saya bahkan memiliki lebih dari 2 dus tumpukan mainan yang akhirnya hilang saat pindah rumah pada umur 8 tahun. Ayah yang memberiku uang jajan lebih diam-diam karena takut aku dimarahi ibu. Ayah suka mengajakku berjalan-jalan keliling kota dengan mobilnya untuk mencari barang yang beliau perlukan. Ayahku sangat ahli dalam masalah mesin, banyak teman-temannya yang datang ke rumah untuk memperbaiki mobilnya. Hal ini yang sempat membuatku berniat melanjutkan sekolah tingkat lanjtanku di sekolah kejuruan dengan Jurusan otomotif. Saya juga ingat saat ayah bercerita beliau pernah menjuarai lomba membuat mobil-mobilan dari kayu saat kecil dulu. Dan beliau bahkan masih pandai saat ini. Ayahku bahkan masih sempat mengantarku setiap pagi kesekolah saat di sekolah lanjutan atas dulu.
Ayah yang selalu ‘mencak-mencak’ saat mengajariku mengendarai mobilnya karena tidak pernah melewati jalur yang sama dan sampai saat ini saya belum pandai mengendarai mobil. Someday, i wish i could dad..!
Ayah, sesorang yang jarang ‘menyentuhku’ saat kesal, sepertinya ini digantikan oleh ibu, yang selalu memainkan tangkai sapu di pahaku jika melakukan kenakalan remaja saat menempuh sekolah menegah dulu. Saya juga selalu excited saat disuruh mencabuti uban yang ayah yang mulai bermunculan di kepalanya karena beliau akan memberiku uang jajan lebih.
Ayah yang bergelut dalam jasa pengangkutan terkadang harus tidak pulang karena pekerjaan yang terletak berkilo-kilo dari rumah akan selalu membawakan oleh-oleh untuk kami dirumah.
Rasanya terlalu banyak memori tentang ayah dan aku hingga 20 tahun aku kini. Dan saat ini aku takut, takut jika teryata waktu dan ruang menghapus memori itu. Aku takut tidak akan mendapat hadiah-hadiah darinya lagi, menemani berkeliling kota lagi atau bahkan hanya melihatnya bergelut bersama alat-alat mesinnya. Aku takut untuk bercerita berdua bersamanya, aku ingin sekali mengatakan bahwa aku kini mampu mengerti semua kejadian yang ada. aku juga takut untuk memberikan protesku tentang beliau. aku takut.!!!
I MISS YOU DAD :(
Yuni..



No comments:
Post a Comment