Jadwal kuliah pagi ini membuatku terjaga lebih cepat dari lelapku. Suara penjaja kue dipagi hari bergema di gendang telingaku. Dengan cepat respon otakku mengirim perintah untuk bangun dan meraih piring, lumayan sarapan pagi. Ternyata diluar telah ada beberapa tetangga kamar yang juga ingin membeli kue tersebut. Dua buah kue rasanya sudah cukup untuk mengganjal perut pagi ini. Sebelum kembali memasuki kamar, tetangga samping kamarku memanggil dan menanyakan apakah aku telah membaca peraturan yang di tempelkan di dinding kosan oleh CS pagi ini. Sontak aku segera menuju ke tempat peraturan itu di pasang. Peraturan yang selama ini hanya berupa bisik-bisik ‘akhirnya’ di pajang juga. Peraturan yang terdiri dari 5-6 poin itu pun aku lahap satu per satu. Dan bagiku ini peraturan yang benar-benar mengatur.
Dalam pikiranku suatu peraturan itu dibuat sesuai dengan kebutuhan orang-orang yang akan menjalankannya. Jadi teringat perkataan seorang senior saat diskusi tentang konstitusi di kampus beberapa bulan lalu, ‘jangan buat peraturan yang pada akhirnya tidak mampu dijalankan’. Aku setuju 100% dengan pendapatnya. Bagaimana tidak, saat membaca poin pertama hingga poin terakhir, rasanya segala suatu yang kami lakukan harus diatur hingga detil terkecilnya. Seingatku beberapa bulan sebelum peraturan ini di pajang, alasan yang paling kuat mengenai penetapan aturan ini adalah demi kenyamanan penghuni kos. Entahlah apa teman-teman yang lain merasa nyaman dengan peraturan yang ada saat ini. Lumrahnya dibeberapa rumah kos yang pernah aku kunjungi adalah peraturan tentang jam berkunjung dan menjaga kebersihan kos. Tapi peraturan ini agak tidak biasa. Kenapa aku katakan tidak biasa, ada beberapa poin yang ‘aneh’. Entahlah aku tidak menemukan kata yang cocok untuk menjelaskannya. Antara lain mengenai sanksi yang harus dibayar perhari jika ada teman atau keluarga yang menginap dan akan ditagihkan setiap akhir bulan. Yang sangat aku sayangkan adalah nominalnya yang menurutku bisa untuk uang makan 5 hari. Selain masalah sanksi diatas, poin yang lain yang juga menurutku aneh adalah pembedaan saat menerima tamu yang lain jenis. Tamu yang lain jenis harus diterima diluar kamar. Sampai saat ini saya masih bingung dengan poin ini. Poin ini mengingatkan saya dengan mata kuliah Gender semester lalu. Saat itu dosen menjelaskan hal yang buat saya tercengang. Beliau melemparkan pertanyaan ‘ mengapa jika dalam suatu acara yang membutuhkan waktu lebih dari sehari, perempuan berkamar dengan perempuan dan begitupun dengan lelaki?’ awalnya aku berpikir karena biasanya seperti itu atau agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan santainya dosen tersebut berkata ‘bagaimana jika ternyata ada perempuan yang ‘lain’ dalam hal ini beliau berkata ‘homosexual’? lalu siapa yang patut disalahkan?. Aku benar-benar kaget, tidak pernah terpikir olehku, tapi menurutku ini rasional. Maka dari itu kenapa harus dibedakan?? Namun, peraturan tetap akan menjadi peraturan. Aku pernah mendengar seorang teman berkata ‘peraturan itu ada untuk dilanggar’ is it? Entahlah... jawabannya kembali pada pribadi masing-masing
Dalam pikiranku suatu peraturan itu dibuat sesuai dengan kebutuhan orang-orang yang akan menjalankannya. Jadi teringat perkataan seorang senior saat diskusi tentang konstitusi di kampus beberapa bulan lalu, ‘jangan buat peraturan yang pada akhirnya tidak mampu dijalankan’. Aku setuju 100% dengan pendapatnya. Bagaimana tidak, saat membaca poin pertama hingga poin terakhir, rasanya segala suatu yang kami lakukan harus diatur hingga detil terkecilnya. Seingatku beberapa bulan sebelum peraturan ini di pajang, alasan yang paling kuat mengenai penetapan aturan ini adalah demi kenyamanan penghuni kos. Entahlah apa teman-teman yang lain merasa nyaman dengan peraturan yang ada saat ini. Lumrahnya dibeberapa rumah kos yang pernah aku kunjungi adalah peraturan tentang jam berkunjung dan menjaga kebersihan kos. Tapi peraturan ini agak tidak biasa. Kenapa aku katakan tidak biasa, ada beberapa poin yang ‘aneh’. Entahlah aku tidak menemukan kata yang cocok untuk menjelaskannya. Antara lain mengenai sanksi yang harus dibayar perhari jika ada teman atau keluarga yang menginap dan akan ditagihkan setiap akhir bulan. Yang sangat aku sayangkan adalah nominalnya yang menurutku bisa untuk uang makan 5 hari. Selain masalah sanksi diatas, poin yang lain yang juga menurutku aneh adalah pembedaan saat menerima tamu yang lain jenis. Tamu yang lain jenis harus diterima diluar kamar. Sampai saat ini saya masih bingung dengan poin ini. Poin ini mengingatkan saya dengan mata kuliah Gender semester lalu. Saat itu dosen menjelaskan hal yang buat saya tercengang. Beliau melemparkan pertanyaan ‘ mengapa jika dalam suatu acara yang membutuhkan waktu lebih dari sehari, perempuan berkamar dengan perempuan dan begitupun dengan lelaki?’ awalnya aku berpikir karena biasanya seperti itu atau agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan santainya dosen tersebut berkata ‘bagaimana jika ternyata ada perempuan yang ‘lain’ dalam hal ini beliau berkata ‘homosexual’? lalu siapa yang patut disalahkan?. Aku benar-benar kaget, tidak pernah terpikir olehku, tapi menurutku ini rasional. Maka dari itu kenapa harus dibedakan?? Namun, peraturan tetap akan menjadi peraturan. Aku pernah mendengar seorang teman berkata ‘peraturan itu ada untuk dilanggar’ is it? Entahlah... jawabannya kembali pada pribadi masing-masing

No comments:
Post a Comment